Menu

Mode Gelap

Opini · 5 Jan 2026 14:38 WITA ·

Ekonomi Bahari Kepulauan Raja Ampat dalam Jaringan Dagang Global: Revitalisasi Hari Ini

badge-check

Redaksi


 Kepulauan Raja Empat. Foto: Dok. Wikipedia Perbesar

Kepulauan Raja Empat. Foto: Dok. Wikipedia

Oleh: Budi Sulistiono

Muqaddimah

Raja Ampat kerap dibayangkan sebagai wilayah yang “jauh di timur”. Namun dalam sejarah maritim Nusantara, kawasan ini bukanlah ruang kosong. Letaknya di bibir barat laut Papua menjadikannya penghubung alami antara dunia Maluku—pusat perdagangan rempah dunia—dan pesisir Papua–Melanesia.

Pada masa Age of Commerce Asia Tenggara, sekitar abad ke-15 hingga ke-17, lalu lintas kapal di kawasan timur Nusantara meningkat tajam seiring melonjaknya permintaan global atas cengkih, pala, dan komoditas laut. Artikel ini menelaah bagaimana dakwah dan struktur politik Islam membentuk ekonomi bahari di Raja Ampat, peran kesultanan Maluku dalam jejaring dagang tersebut, serta bagaimana ruang maritim ini terhubung dengan jaringan regional dan global.

Fokus pada “revitalisasi” tidak dimaksudkan untuk mengulang masa lalu, melainkan merekonstruksi dan menghidupkan kembali nilai, jejaring, serta etos ekonomi maritim Islam sebagai sumber inspirasi bagi pembangunan masa kini dan masa depan.

Raja Ampat sebagai Simpul Laut di Pinggir “Pusat Rempah”

Kepulauan Raja Ampat—Waigeo, Salawati, Batanta, dan Misool—menempati posisi strategis di perairan barat Papua yang kaya sumber daya laut. Dalam konteks sejarah maritim, wilayah ini berfungsi sebagai mata rantai logistik antara pusat-pusat perdagangan Maluku dan kawasan Melanesia.

Anthony Reid menunjukkan bahwa ledakan perdagangan rempah pada abad ke-15 hingga ke-17 tidak hanya melahirkan pelabuhan besar, tetapi juga mengaktifkan pulau-pulau kecil sebagai tempat singgah, pemasok bahan pangan laut, kayu, tenaga pelaut, hingga komoditas bernilai tinggi seperti mutiara, teripang, dan burung cenderawasih.

Gelombang perdagangan ini bersifat kosmopolitan. Pedagang Melayu, Jawa, Makassar, Arab-Hadrami, Gujarat, hingga Cina berjejaring melalui musim angin dan etika dagang lintas agama. Dalam ruang inilah Islam maritim tumbuh—bukan melalui penaklukan darat, melainkan lewat pelabuhan, perkawinan, dan patronase politik, sebagaimana dicatat Leonard Y. Andaya.

Jejak Islam Maritim di Raja Ampat: Tidore, Bacan, dan Seram

Jejak Islam di Raja Ampat dapat ditelusuri setidaknya sejak abad ke-16, seiring dengan ekspansi ekonomi-politik Kesultanan Maluku Utara, khususnya Tidore. Danilyn Rutherford menunjukkan bahwa wilayah pesisir Papua Barat dan pulau-pulau sekitarnya masuk dalam orbit pengaruh Islam melalui jaringan kesultanan tersebut.

Dalam kerangka ini, Raja Ampat diposisikan sebagai wilayah pinggiran (periphery) yang memasok komoditas laut dan tenaga maritim bagi pusat-pusat kekuasaan Islam di Maluku. Islam hadir sebagai “agama pelabuhan”: lentur, berjejaring, dan menyatu dengan adat kelautan setempat.

Islamisasi di Raja Ampat bukan sekadar proses keagamaan, melainkan juga transformasi sosial-politik. Struktur kepemimpinan lokal mulai terintegrasi dalam sistem kesultanan, menciptakan tatanan baru dalam pengelolaan wilayah laut dan aktivitas ekonomi bahari.

Ekonomi Bahari Lama: Teripang, Mutiara, dan Mobilitas Pelaut

Dalam jaringan dagang global awal-modern, Raja Ampat berfungsi sebagai lumbung komoditas laut. Teripang, sirip hiu, kerang, dan mutiara mengalir dari perairan Papua menuju Maluku, Makassar, Batavia, lalu terhubung ke pasar Cina dan Eropa.

Heather Sutherland menegaskan bahwa perdagangan timur Nusantara bertumpu pada jejaring antarpulau yang saling terhubung, bukan pada satu pusat tunggal. Penelitian terbaru Dylan Gaffney dan kolega menunjukkan bahwa mobilitas manusia—perpindahan kampung, perkawinan antarkelompok, dan keterampilan pelayaran—telah menjadi ciri utama masyarakat Raja Ampat selama berabad-abad.

Mobilitas ini merupakan modal sosial maritim yang sejalan dengan dunia dagang Islam: kemampuan membaca musim, mengenali rute, dan membangun kepercayaan lintas etnis. Dalam konteks ini, ekonomi bahari bukan hanya soal komoditas, tetapi juga manusia dan jejaring sosialnya.

Revitalisasi Hari Ini: Islam Maritim sebagai Modal Ekonomi Biru
Revitalisasi ekonomi bahari Raja Ampat hari ini dapat dibaca melalui tiga lapis utama: Revitalisasi nilai; Islam maritim Nusantara membawa etika muamalah—kejujuran, larangan merusak sumber daya, dan tanggung jawab sosial. Nilai ini berkelindan dengan sasi, kearifan adat yang mengatur pengelolaan laut. Studi menunjukkan bahwa sasi efektif menjaga stok sumber daya sekaligus menopang ekonomi komunitas dan pariwisata berbasis konservasi. Revitalisasi komoditas; Ekonomi Raja Ampat kini bertumpu pada perikanan, budidaya mutiara, dan pariwisata. Praktik budidaya mutiara modern menunjukkan bagaimana komoditas lama dapat masuk ke pasar global baru dengan standar keberlanjutan. Dalam bingkai sejarah Islam maritim, komoditas ini dapat diposisikan sebagai heritage commodities—produk yang membawa identitas budaya dan sejarah. Revitalisasi jejaring; Raja Ampat kini terhubung dengan jaringan global baru: konservasi laut, ekowisata, riset ilmiah, dan ekonomi karbon biru. Ini adalah bentuk baru jaringan maritim, di mana arus utama bukan lagi kapal rempah, melainkan wisatawan, peneliti, investasi hijau, dan sertifikasi internasional.

Menghidupkan Kembali “Pelabuhan Ingatan”

Raja Ampat pernah menjadi simpul pinggiran dalam jaringan dagang Islam-global. Kini, ia berpeluang menjadi simpul depan ekonomi biru dunia.

Revitalisasi jejak maritim Islam berarti mengingat bahwa laut bukan batas, melainkan jalan; menempatkan adat dan Islam sebagai pilar etika kelautan; memperkuat komoditas lokal dengan nilai tambah sejarah-budaya; serta menautkan kembali Raja Ampat ke jejaring global yang lebih hijau, adil, dan berkelanjutan. **

Artikel ini telah dibaca 40 kali

Baca Lainnya

Mendorong Parigi Moutong Jadi Kabupaten Ramah HAM

8 Juli 2025 - 10:15 WITA

Dedi Askary

Tambang: Maut atau Harapan?

23 Juni 2025 - 10:35 WITA

Dedi Askary

Menanti Terobosan Erwin–Sahid

22 Juni 2025 - 20:14 WITA

Dedy Askary

Sawit Ilegal dan Pembangkangan terhadap Negara

18 Juni 2025 - 21:56 WITA

Dedy Askari, Komnas HAM Perwakilan Sulawesi Tengah

Sulawesi Tengah, Nirwana yang Terancam Pertambangan

16 Juni 2025 - 10:05 WITA

Dedi Askary, SH

PSU, Nafsu Berkuasa yang Mengorbankan Rakyat

1 Maret 2025 - 19:56 WITA

Trending di Opini