Warga Kelurahan Petobo, Kota Palu, Sulawesi Tengah, belajar mengolah sekam padi menjadi briket sebagai alternatif bahan bakar rumah tangga. Pelatihan itu digelar tim Pengabdian kepada Masyarakat Program Studi Pendidikan Fisika Universitas Tadulako (Untad) melalui skema Diseminasi Hasil Penelitian.
Sebanyak 14 warga mengikuti kegiatan tersebut dengan pendampingan dua mahasiswa Untad. Pelatihan berlangsung di salah satu rumah warga terdampak likuefaksi Petobo pada Sabtu, 12 September 2026.
Prof. Dr. Ir. Unggul Wahyono mengatakan sekam padi yang tersedia di lingkungan sekitar dapat dimanfaatkan sebagai bahan bakar setelah melalui proses pengolahan yang tepat.
“Pengolahan arang sekam ini sebenarnya memerlukan proses yang cermat dan sudah kita siapkan serta berikan modul pengerjaannya. Hari ini kita langsung praktikkan pembuatannya agar warga bisa merasakan manfaatnya secara langsung,” ujar Unggul.
Dalam sesi praktik, tim pengabdi yang diketuai Ketut Alit Adi Untara bersama Dr. Marungkil Pasaribu memperagakan pembuatan briket. Sekitar 1 kilogram arang sekam dicampur dengan perekat tepung kanji, kemudian dicetak menggunakan pipa PVC dan dijemur hingga mengeras.
Warga kemudian membandingkan penggunaan tiga bahan bakar, yakni kayu bakar, arang sekam tanpa cetak, dan briket sekam padi. Ketiganya digunakan untuk memanaskan air.
Dalam uji tersebut, kayu bakar menghasilkan lebih banyak asap, sedangkan briket sekam padi menghasilkan bara dengan asap yang lebih sedikit.
Pelatihan itu juga memunculkan gagasan dari warga untuk memanfaatkan limbah pertanian lain, seperti kulit kemiri. Warga juga mengusulkan modifikasi kompor agar lebih sesuai dengan kebutuhan memasak sehari-hari.
Tim pengabdi kemudian menyerahkan kompor briket kepada para peserta. Kompor tersebut diharapkan dapat digunakan warga sebagai alternatif untuk mengurangi penggunaan bahan bakar rumah tangga.
RED








