Menu ✖

Mode Gelap

Bisnis · 19 Agu 2026 08:13 WITA ·

Dari Sichuan ke Walatana, Gubernur Anwar Hafid Dorong Pertanian Sulteng Naik Kelas

badge-check

Redaksi


 Mesin panen bekerja di lahan padi Desa Walatana, Sigi, yang dikembangkan sebagai model pertanian modern Sulawesi Tengah. Foto: Pemprov Sulteng Perbesar

Mesin panen bekerja di lahan padi Desa Walatana, Sigi, yang dikembangkan sebagai model pertanian modern Sulawesi Tengah. Foto: Pemprov Sulteng

Gubernur Sulawesi Tengah Anwar Hafid mendorong Desa Walatana, Kabupaten Sigi, menjadi model pertanian modern yang bisa diterapkan di daerah lain. Ia menilai pengembangan pertanian tidak cukup hanya mengejar produksi, tetapi juga harus meningkatkan nilai ekonomi bagi petani.

Hal itu disampaikan Anwar saat menghadiri Panen Raya Budidaya Padi Organik Al-Khairaat dan Sarasehan Petani untuk Negeri di Desa Walatana, Kecamatan Dolo Selatan, Selasa (18/8/2026).

Anwar mengapresiasi pengembangan padi organik di Walatana yang telah memasuki musim tanam keenam melalui kerja sama dengan Badan Usaha Milik Al-Khairaat (BUMA).

Menurut dia, Walatana memiliki modal untuk dikembangkan sebagai percontohan pertanian modern di Sulawesi Tengah.

“Pertanian organik dan pertanian milenial seperti ini harus kita dorong. Saya berharap Walatana bisa menjadi role model pertanian di Sulawesi Tengah,” ujar Anwar.

Belajar dari Pertanian Sichuan

Anwar mengatakan pengembangan pertanian membutuhkan perubahan cara pandang. Petani, kata dia, tidak boleh hanya berorientasi pada jumlah produksi, tetapi juga harus menghitung nilai ekonomi yang diperoleh dari hasil usaha tani.

Ia kemudian menceritakan pengalamannya saat melihat perkembangan pertanian modern di Provinsi Sichuan, China. Menurut Anwar, sektor pertanian di wilayah itu ditopang oleh riset, teknologi, sistem pengairan, kepastian pasar, manajemen keuangan, digitalisasi, dan hilirisasi.

“Saya ke Sichuan melihat bagaimana pertanian modern benar-benar dikembangkan. Mereka sudah mampu mempercepat masa panen dan meningkatkan frekuensi tanam,” katanya.

Dari pengalaman tersebut, Anwar menyebut sejumlah aspek yang perlu diperkuat dalam pengembangan pertanian Sulawesi Tengah. Riset, misalnya, harus menjadi dasar mulai dari pengujian kondisi tanah hingga pemilihan bibit.

Sistem irigasi dan sumber air juga perlu dijaga agar produksi berkelanjutan. Di sisi lain, petani membutuhkan kepastian pasar agar hasil panen tidak berhenti sebagai komoditas mentah.

Menurut Anwar, kemampuan mengelola keuangan juga penting. Petani harus dapat menghitung biaya produksi, keuntungan, dan nilai ekonomi dari setiap usaha tani.

“Petani jangan hanya berpikir berapa ton yang dihasilkan. Yang lebih penting adalah berapa nilai ekonomi yang diperoleh. Produksi harus menghasilkan pendapatan yang lebih baik bagi petani,” ujarnya.

Dorong Bibit dan Hilirisasi

Anwar mengatakan Sulawesi Tengah tidak harus meniru seluruh sistem pertanian yang diterapkan di negara lain. Teknologi dan pola pengelolaan yang sesuai dapat diadaptasi berdasarkan kondisi daerah.

“Kita memang masih jauh, tetapi setidaknya kita bisa mulai. Yang paling penting adalah bibit dan hilirisasi,” katanya.

Ia menilai kemandirian petani dalam penyediaan bibit dapat menjadi salah satu fondasi pengembangan pertanian. Pemerintah, kata dia, dapat memperkuatnya melalui teknologi, riset, dan sistem pendukung yang tepat.

Selain itu, pemerintah perlu mempertemukan petani dengan perguruan tinggi, pelaku usaha, serta para ahli pertanian dan ekonomi. Kolaborasi tersebut diperlukan untuk menemukan model pengembangan yang sesuai dengan karakteristik Sulawesi Tengah.

Pengembangan padi organik di Walatana yang telah memasuki musim tanam keenam dinilai menunjukkan konsistensi petani dalam menerapkan sistem pertanian yang lebih berkelanjutan.

Anwar berharap Walatana tidak berhenti sebagai lokasi produksi dan panen padi organik. Ia ingin kawasan tersebut berkembang menjadi ekosistem pertanian yang mencakup penyediaan bibit, produksi, pengolahan, pemasaran, hingga hilirisasi.

“Kalau Walatana ini kita dorong dengan riset, bibit yang baik, teknologi, pasar dan hilirisasi, saya yakin ini bisa menjadi contoh yang dapat kita kembangkan di daerah lain,” ujarnya.

Walatana sebagai Model Pertanian Sulteng

Panen raya tersebut turut dihadiri Bupati Sigi Mohamad Rizal Intjenae, Kepala Perwakilan Bank Indonesia Moh. Irfan Sukarna, Rektor Universitas Islam Alkhairaat (Unisa), Ketua Umum PB Al-Khairaat Habib Sayyid Alwi bin Saggaf Aljufri, Ketua Banom Al-Khairaat, Satgas Swasembada Pangan, kepala perangkat daerah terkait, serta masyarakat Kecamatan Dolo Selatan.

Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah berharap pengembangan pertanian organik Walatana dapat melahirkan model pertanian yang lebih mandiri dan modern. Tidak hanya meningkatkan produksi, model tersebut juga diharapkan mampu meningkatkan nilai tambah dan kesejahteraan petani.

ADV-PPID

Artikel ini telah dibaca 18 kali

Baca Lainnya

Kawasan Transmigrasi Bahari Tomini Raya Disiapkan Jadi Penggerak Ekonomi Parigi Moutong

6 Oktober 2026 - 22:15 WITA

Kawasan transmigrasi bahari Tomini raya

Wagub Reny: Setiap Rupiah APBD 2027 Harus Memberi Manfaat bagi Masyarakat

6 Oktober 2026 - 21:29 WITA

DJPb Sulteng Siapkan Dashboard Fiskal untuk Pantau Anggaran Pemkot Palu

5 Oktober 2026 - 17:10 WITA

Audiensi Pemkot Palu dan Kanwil DJPb Sulawesi Tengah membahas percepatan program dan pengelolaan anggaran

HUT ke-81 TNI, Anwar Hafid Apresiasi Peran Prajurit hingga Pelosok Sulteng

5 Oktober 2026 - 13:53 WITA

Reny Tegaskan Kebudayaan Sulteng Tidak Akan Digabung dengan Pariwisata

5 Oktober 2026 - 12:26 WITA

Dialog dengan Warga Wombo Kalonggo, Anwar Hafid Serahkan 1.500 Paket Sembako

5 Oktober 2026 - 12:14 WITA

Trending di Sulawesi Tengah