Wakil Gubernur Sulawesi Tengah Reny A. Lamadjido mengingatkan pentingnya pengaturan usia dan jarak kehamilan sebagai bagian dari upaya menjaga kesehatan ibu dan anak serta mencegah stunting.
Hal itu disampaikan Reny saat mendampingi Wakil Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/Wakil Kepala BKKBN Ratu Ayu Isyana Bagoes Oka dalam kegiatan Intensifikasi Pelayanan Keluarga Berencana (KB) Wilayah Khusus di Pelabuhan Wani, Kecamatan Tanantovea, Kabupaten Donggala, Senin (28/9/2026).
Reny mengingatkan pasangan usia subur mengenai risiko 4T, yakni terlalu muda, terlalu tua, terlalu dekat jarak kehamilan, dan terlalu banyak jumlah anak.
“Risiko 4T perlu menjadi perhatian bersama karena dapat berpengaruh terhadap kesehatan ibu dan anak, termasuk dalam upaya pencegahan stunting,” ujar Reny.
Berdasarkan pemutakhiran pendataan keluarga, capaian Modern Contraceptive Prevalence Rate (MCPR) di Sulawesi Tengah tercatat 58 persen dengan unmet need 15,2 persen. Sementara di Kabupaten Donggala, MCPR berada pada angka 45,93 persen dan unmet need mencapai 21,85 persen.
Data tersebut menunjukkan masih perlunya perluasan akses masyarakat usia subur terhadap pelayanan KB, terutama di wilayah yang memiliki kebutuhan pelayanan KB belum terpenuhi.
Karena itu, pelayanan KB perlu menjangkau masyarakat secara langsung dan tidak hanya mengandalkan kunjungan ke fasilitas kesehatan. Salah satu bentuk pelayanan tersebut dilakukan melalui layanan bergerak di wilayah khusus.
Di Pelabuhan Wani, pelayanan didukung unit pelayanan KB bergerak serta Rumah Sakit Kapal dr. Lie Dharmawan Bayan Peduli milik Yayasan DokterSHARE. Kapal tersebut telah bersandar di Pelabuhan Wani sejak 22 September 2026 untuk memberikan pelayanan kesehatan dan KB kepada masyarakat. Pada kunjungan Wamen, sebanyak 50 akseptor mendapatkan pelayanan KB.
Dalam kunjungan tersebut, Wamen Ratu Isyana juga menekankan bahwa pencegahan stunting tidak hanya berkaitan dengan pemenuhan gizi. Upaya tersebut mencakup intervensi spesifik dan sensitif, termasuk akses air bersih, sanitasi, jamban, edukasi gizi, perilaku hidup bersih dan sehat, serta penguatan pelayanan KB.
Pengaturan usia dan jarak kehamilan serta perencanaan jumlah anak juga menjadi bagian dari upaya tersebut. Ratu menyebut pencegahan kehamilan pada usia terlalu muda maupun terlalu tua, pengaturan jarak kelahiran, dan perencanaan jumlah anak sebagai bagian dari pencegahan stunting.
Reny berharap intensifikasi pelayanan KB di wilayah khusus dapat memperluas jangkauan pelayanan, meningkatkan kesadaran masyarakat, menurunkan unmet need, serta meningkatkan kesertaan KB modern di Sulawesi Tengah.
“Melalui program KB, kita berupaya meningkatkan kesehatan ibu dan anak, menurunkan risiko kematian, serta mencegah stunting,” kata Reny.
Rangkaian kegiatan juga diisi sosialisasi kepada sekitar 150 peserta yang terdiri atas lintas sektor, Tim Pendamping Keluarga, kader, penyuluh KB, tenaga medis, dan pasangan usia subur.
Kegiatan tersebut turut dihadiri Kepala Perwakilan BKKBN Provinsi Sulawesi Tengah Nuryamin, Asisten Administrasi Umum Sekretariat Daerah Kabupaten Donggala Isngadi, Direktur Bina Pelayanan KB Wilayah Khusus Kemendukbangga/BKKBN Farah Adibah, Direktur Rumah Sakit Kapal dr. Lie Dharmawan Bayan Peduli Yayasan DokterSHARE, unsur pemerintah, serta pemangku kepentingan lainnya.
ADV-PPID








